Materi kelompok 2, komponen-komponen manajemen kelas
TUGAS
MANAJEMEN KELAS DI SD
TENTANG
KOMPONEN- KOMPONEN MANAJEMEN KELAS
DISUSUN OLEH:
NOVIA RIZA ASYARI
(1620170)
DOSEN
PEMBIMBING :
YESSI RIFMASARI MP.d
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP )
ADZKIA
2019
A. Pengertian komponen keterampilan manajemen kelas
Menurut
bahasa ”keterampilan” artinya kecakapan untuk menyelesaikan tugas. Sedangkan
menurut istilah ”keterampilan” adalah sekumpulan pengetahuan dan kemampuan yang
harus dikuasai. Kemudian ”mengelola” menurut bahasa artinya mengendalikan,
menyelenggara, mengurus, menjalankan.3 Menurut istilah ”mengelola”
adalah penciptaan suatu kondisiyang memungkinkan belajar siswa menjadi optimal.
Kelas artinya ruang belajar.
a. Proses atau cara perbuatan mengelola.
b. Proses melakukan kegiatan
tertentu dengan menggerakkan tenaga orang lain.
c. Proses yang membantu merumuskan kebijakan dan tujuan organisasi.
d. Proses yang memberikan pengawasan
pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian
tujuan.
Pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru dalam
menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal serta guru mampu
mengembalikannya bila terjadi masalah dan gangguan dalam proses belajar
mengajar. Dalam artian, kegiatan-kegiatan untuk memelihara kondisi belajar yang
optimal dan mempertahankan kondisi belajar apabila terjadi suatu gangguan dan
masalah ketika proses belajar mengajar berlangsung. Adapun yang termasuk ke
dalam hal ini, seperti halnya penghentian tingkah laku siswa yang menyelewengkan
perhatian kelas, memberikan ganjaran bagi siswa yang tidak menepati waktu yang
telah disepakati.
Menurut Syaiful Bahri Djamara dalam
sebuah bukunya yang berjudul “Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif”
bahwa, manajemen kelas adalah suatu upaya memperdayagunakan potensi
kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses
interaksi edukatif mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Suharismi Arikunto, manajemen
kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar
mengajar atau membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga
dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.
Dari beberapa pendapat para ahli di
atas dapat disimpulkan arti dari manajemen kelas adalah suatu usaha yang
dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar
dapat dicapai suatu kondisi yang optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan
belajar seperti yang diharapkan.
B. Macam-Macam Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
Komponen-komponen keterampilan
pengelolaan kelas ini pada umumnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu
keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi
belajar yang optimal (bersifat preventif ) dan keterampilan yang berhubungan
dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.
Semua kegiatan yang disebutkan diatas
akan diperjelas dan diperdalam via uraian berikut ini
:
1. Keterampilan
yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang
optimal (bersifat prevetif).
Keterampilan ini berhubungan dengan kompetensi guru dalam
mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta aktivitas-aktivitas yang
berkaitan dengan keterampilan sebagai berikut:
a) Sikap tanggap
Seorang guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap
perilaku yang muncul pada siswa dan memberikan tanggapan-tanggapanatas perilaku
tersebut dengan maksud tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaan tertekan dan
memunculkan perilaku susulan yang kurang baik. Komponen ini ditunjukan oleh
tingkah laku guru bahwa ia hadir berasama mereka. Guru tahu kegiatan mereka,
tahu ada perhatian atau tidak ada perhatian, tahu yang mereka kerjakan.
Seolah-olah mata guru ada di belakang kepala, sehingga guru dapat menegur anak
didik walaupun guru sedang menulis di papan tulis. Sikap ini dapat
dilakukan dengan cara:
a.
Memandang
secara seksama
Memandang secara seksama dapat mengundang dan melibatkan
anak didik kontak pandang dalam pendekatan guru untuk bercakap-cakap, bekerja
sama dan menunjukan rasa persahabatan.
b.
Gerak
mendekati
Gerak mendekati hendaklah dilakukan secara wajar
bukan menakut-nakuti, mengancam atau memberikan kritikan-kritikan kelompok
kecil dan individu ditandai dengan kesiagaan, minat dan perhatian guru terhadap
aktivitas siswa serta tugas guru.
c.
Memberi
pernyataan
Pernyataan guru terhadap sesuatu yang dikemukakan
oleh siswa sangat diperlukan, baik berupa tanggapan, komentar, dan lain-lain.
Akan tetapi harus dihindari hal-hal yang menunjukkan dominasi guru, seperti
komentar atau pernyataan yang mengandung ancaman.
d.
Memberi reaksi
terhadap gangguan dan ketakacuhan
Kelas tidak selamanya tenang. Pasti ada gangguan. Hal ini
perlu guru sadari dan jangan dibiarkan. Teguran guru merupakan tanda bahwa guru
ada bersama anak didik. Teguran haruslah diberikan pada saat yang tepat dan
sasaran yang tepat pula, sehingga dapat mencegah meluasnya penyimpangan tingkah
laku.
b) Membagi
perhatian
Kelas diisi oleh sejumlah orang (siswa) yang memiliki
keterbatasan-keterbatasan yang berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan
pertolongan dari guru. perhatian guru tidak hanya terfokus pada satu
orang atau satu kelompok tertentu yang dapat menimbulkan kecemburuan, tapi
perhatian harus terbagi dengan merata kepada setiap anak yang ada di dalam
kelas juga harus mampu membagi perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang
berlangsung dalam waktu yang sama agar pengelolaan kelas menjadi efektif. Membagi
perhatian dapat dilakukan dengan cara:
a.
Visual
Guru dapat mengubah pandangannya dalam memperhatikan
kegiatan pertama sedemikian rupa sehingga ia dapat melirik kegiatan kedua,
tanpa kehilangan perhatian pada kegiatan pertama. Kontak pandang ini bisa
dilakukan terhadap kelompok anak didik atau anak didik secara individual.
b.
Verbal
Guru dapat memberi komentar, penjelasan, pertanyaan dan
sebagainya terhadap aktivitas anak didik pertama sementara ia memimpin dan
terlibat supervisi pada aktivitas anak didik yang lain.
c) Pemusataan
perhatian kelompok
Munculnya kelompok informal di kelas atau pengelompokan
karena disengaja oleh guru dalam kepentingan pembelajaran membutuhkan kemampuan
untuk mengatur dan mengarahkan perilakunya, terutama ketika kelompok
perhatiannya harus terpusat pada tugas yang harus diselesaikan. Maka guru harus
bisa mengambil inisiatif dan mempertahankan perhatian anak didik dan
memberitahukan (dapat dengan tanda-tanda) bahwa ia bekerja sama dengan kelompok
atau subkelompok yang terdiri dari tiga sampai empat orang. Untuk itu ada
beberapa hal yang dapat guru lakukan, yaitu:
a.
Menyiapkan siswa
Memusatkan perhatian siswa kepada suatu hal sebelum
guru menyampaikan materi pokok. Maksudnya adalah untuk menghindari penyimpangan
perhatian siswa
b.
Pertanggungan
jawab
Guru meminta pertanggung jawaban siswa atas kegiatan
dan keterlibatan siswa dalam suatu kegiatan, baik kegiatan sendiri maupun
kegiatan kelompok. misalnya dengan meminta kepada siswa memperagakan,
melaporkan hasil dan memberi tanggapan.
c.
Pengarahan dan
petunjuk yang jelas
Guru harus sering memberi pengarahan dan petunjuk
yang jelas dansingkat dalam memberikan pelajaran kepada siswa sehingga seluruh
anggota kelas, baik kelompok maupun individu dengan menggunakan bahasa dan
tujuan yang jelas
d.
Penghentian
Salah satu cara untuk menghentikan gangguan siswa
adalah beruapa teguran yang dilakukan oleh guru, teguran ini berupa teguran
verbal yang di benarkan dalam pendidikan.teguran verbal yang efektif adalah
yang memenuhi syarat sebagai berikut: a) Tegas dan jelas tertuju pada siswa
yang mengganggu anggota kelas serta yang bertingkah laku menyimpang. b)
Menghindari peringatan yang kasar dan menyakitkan atau yang mengandung
penghinaan. c) Menghindari ocehan dan ejekan
e.
Penguatan
Memberi penguatan bisa dilakukan untuk menanggulangi
siswa yang mengganggu atau yang tidak melakukan tugas dengan masalahnya.
Pemberian penguatan yang sederhana adalah: a) Dengan menggunakan penguatan
positif bila siswa telah menghentikan tingkah laku dan kembali kepada tugas
yang diminta. b) Dengan menggunakan penguatan positif kepada siswa yang tidak
menmggunakan anggota kelas dan bisa dijadikan sebagai model tingkah laku yang
baik kepada siswa yang suka mengganggu.
f.
Kelancaran
atau kemajuan
Kelancaran atau kemajuan siswa adalah indikator
bahwa siswa dapat memusatkan perhatiannya pada pelajaran yang diberikan di
kelas. Ini perlu didukung guru dan jangan diganggu dengan hal-hal lain yang
membuyarkan konsentrasi belajar siswa.
2. Keterampilan
yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan ini berkaitan dengan tanggapan guru terhadap
anak didik yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan kegiatan
remedial untuk mengembalikan kondisi belajara yang optimal. Apabila terdapat
anak didik yang menimbulkan gangguan yang berulang –ulang walaupun guru telah
menggunakan tingkah laku dan tanggapan yang sesuai, guru dapat meminta bantuan
kepala sekolah, konselor sekolah, atau orang tua anak didik untuk membantu
mengatasinya.
Bukanlah kesalahan profesional guru apabila ia tidak dapat menangani setiap
masalah anak didik dalam kelas. Namun pada tingkat tertentu guru dapat
menggunakan seperangkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap
tingkah laku anak didik yang terus menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak
mau terlibat dalam tugas kelas. Strategi itu adalah:
1. Memodifikasi
tingkah laku
Modifikasi tingkah laku adalah menyesuaikan bentuk-bentuk
tingkah laku kedalam tuntutan kegiatan pembelajaran sehingga tidak muncul
prototyfe pada diri anak tentang penilaian yang kurang baik. Guru menganalisis
tingkah laku anak didik yang mengalami masalah atau kesulitan dan berusaha
memodifikasi tingkah laku tersebut dengan mengaplikasikan pemberian penguatan
secara sistematis.
2. Pengelolaan
kelompok
Kelompok kecil ataupun kelompok belajar di kelas adalah
merupakan bagian pencapaian tujuan pembelajaran dan strategi yang diterapkan
oleh guru. Kelompok biasa muncul secara informal seperti teman bermain, teman
seperjalanan , gender dan lain-lain. Untuk kelancaran pembelajaran dan
pencapaian tujuan pembelajaran maka kelompok yang ada dikelas itu harus
dikelola dengan baik oleh guru. Guru dapat menggunakan pendekatan pemecahan
masalah kelompok dengan cara:
a)
Memperlancar
tugas-tugas: Mengusahakan terjadinya kerja sama yang baik dalam pelaksanaan tugas.
b)
Memelihara
kegiatan-kegiatan kelompok: Memelihara dan memulihkan semangat anak didik dan
menangani konflik yang timbul.
3. Menemukan dan
memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
Permasalahan memiliki sifat perennial (akan selalu ada)
dan nurturan effect, oleh karna itu permasalahan akan muncul didalam kelas
kaitanya dengan interaksi dan akan diisi oleh dampak pengiring yang besar bila
tidak biasa di selesaikan. Guru dapat dapat melakukan seperangkat cara untuk
mengendalikan tingkah laku keliru yang muncul, dan ia mengetahui sebab-sebab
dasar yang mengakibatkan ketidak patuhan tingkah laku tersebut serta berusaha
untuk menemukan pemecahannya. Guru harus datang mendeteksi permasalahan yang
mungkin muncul dan dengan secepatnya mengambil langkah penyelesain sehinggaada
solusi untuk masalah tersebut.
C. . Permasalahan Dalam komponen Pengelolaan
Kelas
Menurut Abdul Majid dalam pengelolaan kelas terdapat
dua masalah yakni masalah individual dan masalah kelompok.Tindakan pengelolaan
kelas seorang guru akan efektif apabila guru dapat mengidentifikasi dengan
tepat hakikat masalah yang sedang dihadapi. Adapun masalah-masalah pengelolaan
kelas akan dijelaskan di bawah ini sebagai berikut:
1.
Masalah
Individu
Masalah individu muncul karena dalam individu ada
kebutuhan yang ingin diterima oleh kelompok dan ingin mencapai harga diri.
Apabila kebutuhan individu tidak dapat dipenuhi melalui cara yang baik, maka
individu yang bersangkutan akan mencari cara lain untuk mencapai kebutuhannya
dengan berbuat tidak baik. Perbuatan yang tidak baik itu menurut Rudolf
Dreikurs dan Pearl Cassel digolongkan ke dalam empat point, yakni:
a)
Attetion
Getting Behaviors
Tingkah laku yang ingin mendapat perhatian orang
lain. Misalnya membadut di kelas, atau berbuat lamban sehingga memerlukan
pertolongan ekstra.
b)
Power
Seeking
Maksudnya adalah tingkah laku yang ingin menunjukkan
kekuatan. Misalnya selalu mendebat, kehilangan kendali emosional (marah,
menangis) atau selalu lupa pada peraturan di kelas.
c)
Revenge
Seeking Behaviors
Maksunya adalah tingkah laku yang bertujuan
menyakiti orang lain. Misalnya menyakiti orang lain dengan perkataan-perkataan
yang tidak baik, memukul, menggigit dan lain-lain.
d)
Passive
Behaviors
Maksudnya peragaan ketidak mampuan, yakni sama
sekali menolak untuk mencoba melakukan suatu apapun karena khawatir gagal.
Dari ke empat tindakan individu di atas menurut
Maman Rahman akan mengakibatkan terbentuknya empat pola tingkah laku yang
sering nampak pada usia sekolah yakni:
a.
Pola
aktif kontruktif, yaitu tingkah laku yang ekstrim, ambisius untuk menjadi super
stars di kelasnya dan berusaha membantu guru dengan penuh vitalitas dan sepenuh
hati.
b.
Pola
aktif dekstruktif, yaitu pola tingkah laku yang diwujudkan dalam bentuk suka
marah, kasar dan pemberontak.
c.
Pola
konstuktif, yaitu pola yang menunjukkan kepada satu bentuk tingkah laku yang
lamban denagn maksud agar selalu dibantu dan diharapkan perhatian.
d.
Pola
pasif destruktif, yaitu pola tingkah laku yang menunjuk sifat malas dan keras
kepala.
2.
Masalah
Kelompok
Adapun masalah kelompok dalam pengelolaan kelas menurut
Johnson dan Bany,yakni:
a.
Kurangnya
kesatuan, ditandai dengan konflik-konflik antara individu dengansub kelompok.
Misalnya konflik antara jenis kelamin.
b.
Ketidak
taatan terhadap standar tindakan dan prosedur kerja, misalnya keributan,
kegaduhan, berbicara keras, bertingkah laku yang mengganggu saat mereka
diharapkan bekerja dalam suasana tenang di tempat duduk masing-masing.
c. Reaksi
negatif terhadap pribadi anggota kelas ditandai dengan kesan bermusuhan
terhadap anak-anak yang tidak diterima oleh kelompok, menghalagi usaha
kelompok.
d.
Pengakuan
kelas terhadap kelakuan guru.
e. Kecendrungan
adanya gangguan, kemacetan pekerjaan dan kelakuan yang dibuat-buat.
f. Ketidak
mampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, seperti memberi
reaksi buruk pada saat ada peraturan baru, situasi darurat, perubahan anggota
kelompok, perubahan jadwal, dan pergantian guru.
g.
Semangat
juang yang rendah dan adanya sikap permusuhan.
DAFTAR
PUSTAKA
Bahri Djamara, Syaiful dan Zain, Aswan.
Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta:
Rineka Cipta 2006). Cet. Ke-6
Rukmana, Ade dan Suryana, Asep. Pengelolaan Kelas. (Bandung: Upi Press
2006). Cet. Ke-1
Syaiful
Bahri Djamara dan Aswan Zain, Strategi
Belajar Mengajar, (. (Jakarta:
Rineka Cipta 2006). Hal . 175
Bahri Dzamarah, Syaiful. Guru
dan Anak Didik
dalam Interaksi Edukatif Suatu PendekatanTeoritis Psikologis, Jakarata: Rineka
Cipta, 2005.
Komentar
Posting Komentar